Doa dan Usia #Menuju26 (1)

Ketika kamu sudah lelah meminta, mungkin itulah saat untuk meresapi satu kalimat ajaib yang kerap dilontarkan oleh teman saya, “Nikmatin aja.”

Kalimat itu mungkin dilontarkan sambil lalu. Spontan tanpa ada tendensi apapun kecuali membuat saya terdiam ketika meributkan jarak antar-pos pada sebuah pendakian. Iya, saya memang langsung terdiam setelah mendengarnya, tetapi bukan ‘terdiam’ yang biasa.
Melainkan lebih dari itu.

Kalimat itu merangkum jawaban atas doa saya selama beberapa tahun belakangan ini. Bagi kamu dan kamu yang rajin ngulik blog saya, mungkin kalian bisa paham durasi tahun yang saya maksud. Mungkin kalian bisa mengangguk-anggukkan kepala saat saya katakan bahwa pada beberapa tahun tersebut, saya merasa seperti dikutuk. Terjebak di dalam perjalanan naik-turun rollercoaster yang membuat saya terpuruk. Terombang-ambing dalam dimensi bernama ‘petualangan rasa’ yang sepertinya tidak pernah berhenti betul.

Lama tidak menulis di blog ini, mungkin itu adalah sebuah indikasi yang baik bagi saya pribadi. Pergumulan saya yang pelik ketika itu, kini berangsur terurai oleh waktu. Dilerai oleh jarak. Dan dilenakan dengan kehadiran orang-orang baru. Kelamaan, saya merasa tidak perlu lagi berkeluh-kesah di blog ini. Blog yang sejak awal memang sengaja saya buat (hanya) untuk menumpahkan energi negatif yang tersimpan di dalam hati.

Meski batin saya membaik, bukan berarti pergumulan saya telah tunai dan selesai. Namanya juga luka, tentu ada bekas yang tertinggal. Masih ada dinamika keseharian yang harus saya hadapi. Lucunya, saya merasa lebih tenang dan tabah. Berbagai rintangan menjadi lebih mudah dijalani. Justru karena saya sudah melewati yang terberat beberapa tahun belakangan ini.


Iman dan Harapan
Peristiwa demi peristiwa yang menempa saya saat itu tak jarang membuat apa yang saya yakini goyah. Saya meragukan keimanan saya (dan dengan sinis memandang orang-orang beriman di sekitar saya). Namun proses meragu itu membawa saya pada satu kesimpulan. Kini saya memercayai bahwa kita sebagai pribadi, tidak perlu bermewah-mewah dalam meyakini. Tidak perlu repot-repot menulis status pada kolom agama di KTP untuk membatin, bahwa ada sosok yang diam-diam kita percaya untuk selalu membantu kita di saat yang tersulit. Saya katakan diam-diam, karena mulut saya selalu berucap segalanya yang skeptis, tetapi hati kecil saya tetaplah seorang gadis kecil yang selalu mengeluh minta tolong kepada sosok yang mereka sebut Tuhan. Sosok yang hingga kini tak ingin saya ucap namanya dengan lantang.

Ibarat baris
-berbaris, dalam imajinasi saya, sosok yang namanya tidak ingin saya sebut itu selalu berdiri di deretan paling belakang. Kalau di sepakbola, bisa jadi ia duduk di bangku cadangan. Ia tidak marah bila saya mengabaikannya. Ia tidak marah jika saya terlebih dahulu minta tolong kepada teman-teman saya yang berbaris paling depan. Dalam bayangan saya, ia hanya tersenyum dari baris paling belakang. Mengintip apakah saya bisa melalui berbagai cobaan hidup tanpa uluran tangannya dan hanya berbekal belas kasih dari orang-orang di sekitar saya.

Ia tidak tersinggung bila saya tidak mengundangnya bermain di lapangan. Ia tidak gusar bila saya tetap membiarkannya duduk di bangku cadangan, hampir menganggapnya tiada. Tetapi alih-alih bosan, ia tetap bertahan. Ia tidak pergi dan malah sebaliknya, terus duduk di situ. Bukankah posisi cadangan justru menjadi istimewa karena pelakunya setia? Seperti itulah ia. Kerjanya hanya menunggu dengan setia. Menunggu saya. Menunggu hingga saya terluka, menangis, lalu berlari kepadanya.

Saya semakin mantap bahwa saya tidak perlu bermewah-mewah dalam meyakini. Karenanya, saya enggan masuk ke dalam tradisi ritus relijius yang serba seremoni. Serba perayaan. Serba beramai-ramai dan vulgar dalam pengungkapan. Saya tahu, anggapan saya ini tentu tidak pantas bagi sebagian orang yang menjunjung tinggi tradisi gereja. Tapi bagaimana ya. Seringkali saya datang ke beberapa perjumpaan komunal, baik yang skalanya kecil maupun besar.  Baik sekadar perjumpaan berbagi (sharing) maupun upacara puja dan memuji. Kok rasanya pertemuan-pertemuan itu semu. Seringnya, saya pulang dengan perasaan kecewa. Saya lebih sering merasa minder dan dibuat terheran-heran, betapa banyak orang bisa
dengan megah mengungkapkan rasa percayanya. Betapa banyak yang menghadiri perayaan ekaristi hanya karena telanjur terjebak rutinitas dan demi mengobati rasa takut akan tuhan (kenapa sih kalian takut kepadanya? Apa iya rasa takut adalah terjemahan dan mutlak indikator bagi kepatuhan seseorang? Kalau bertolak dari pilihan Macchiavelli, tidakkah lebih asyik jika kita menghormati karena telanjur mencintai?).

Saya risih bila ada umat menunduk dengan hikmatnya sembari memandang tidak suka kepada sekelompok balita. Balita yang berlatih drama di tangga-tangga altar, asyik berisik berlarian di antara tabernakel dan mimbar. Melihat umat yang gusar itu saya membatin dan bertanya-tanya sendiri, “Kenapa dia sepertinya keberatan sekali ada non-klerus berlari di dekat tabernakel? Bagaimana kalau balita tersebut sebenarnya juga sedang berdoa dan ingin dekat dengan Tuhannya, tetapi dengan cara yang berbeda. Yang menyenangkan, yang tidak dipahami oleh kita yang sudah dilenakan parade simbol dan tata cara peribadatan.”

Alasan lain mengapa saya enggan untuk taat dengan ritual adalah ketidaknyamanan saya dengan seremoni yang dilakukan secara teratur. Segala rutinitas yang terlalu rapi dan terjadwal membuat hati saya kering setengah mati. Saya lebih memilih untuk memelihara rindu, melanggenggkan suara hati kecil saya yang diam-diam merasa perlu. Perlu untuk memeluk sesosok pemain cadangan yang lebih suka saya sebut sebagai kakak penolong dibanding menyebutnya dengan istilah ‘Tuhan’. Istilah ‘Tuhan’ rasanya sombong sekali, dan istilah ‘kakak’ rasanya dekat sekali. Tuhan idealnya duduk pada ketinggian tertentu dan mengawasi, sedangkan kakak punya kehidupannya sendiri. Saya dibiarkannya bebas berlari, tetapi kemudian ia mencari ketika saya sudah terlalu lama pergi. Porsinya pas betul. Saya pun menjadi lebih leluasa mencintai, tanpa merasa takut ataupun terintimidasi.

Dengan begitu, perlahan-lahan luka batin saya sembuh. Saya pun dapat kembali berharap, percaya dan menyayangi. Meyayangi si ‘kakak’, orang-orang di sekitar saya, dan yang paling penting, berdamai dengan diri sendiri. Dan rasanya menyenangkan.
J


Doa yang Dewasa
Seorang teman (berbeda dengan yang sebutkan pada awal uraian ini) pernah bertanya kepada saya, “Kau tahu tidak, doa apa yang berkenan bagi-Nya?”
Saya menggeleng sembari menjawab dengan tidak yakin, “Doa yang juga bermanfaat buat orang banyak?”
[Maklum. Saya memang dari kecil terobsesi menjadi pahlawan (seperti Sailormoon) dan penjaga perdamaian. Hahaha. Buat saya, pencapaian seseorang adalah ketika sudah bisa membuat hidupnya bermanfaat bagi semua orang. Membuat semua orang tersenyum.]

Mendengar jawaban saya, teman saya tadi gantian menggeleng.
Saya coba sekali lagi menjawab pertanyaannya, “Yang lugas dan spesifik.”
Ia akhirnya menjawab, “Hampir betul, tapi bukan. Tuhan paling suka dengan doa yang jujur. Kau tahu kah, seperti anak kecil itu. Merengek. Begitu polos. Murni.”

Saya terpana dengan jawabannya. Dan
saya sepakat. Semenjak saat itu, saya betul-betul seperti anak kecil yang merengek minta permen setiap kali berdoa.

Saya jarang sekali berdoa demi memelihara rasa rindu kepada ‘sang kakak’. Tetapi, sekalinya saya berdoa, saya memang sedapat mungkin tidak membalut doa saya dengan segala hal yang berlebih-lebihan, melainkan dengan apa yang sungguh ada di dalam hati saya. Jika saya merasa pilu karena ada masalah, saya akan datang seperti bocah yang menangis karena jatuh dari sepeda. Jika saya sedang meminta sesuatu, saya otomatis datang seperti anak-anak yang merajuk minta permen. Jika saya sedang ingin mengucap syukur dan terima kasih, saya akan datang seperti gadis kecil yang memberikan bunga kepada pujaan hatinya. Dan setelah berdoa, rasanya plong sekali. Doa yang sederhana kepada sosok yang ‘disederhanakan’ rasanya begitu nikmat. Tidak ada yang ditutup-tutupi.


Bahan Bakar Hidup
Mulai menerima (kembali) sosok ‘sang kakak’ dalam kehidupan tidak serta merta menjadikan saya nrimo. Saya toh tetap rajin marah, menyesalkan nasib dan banyak
menuntut. Beberapa kali, saya juga tetap antipati dengan kekatolikan akibat melihat manusia-manusia ‘sejudul (sesama Katolik)’ yang mengagungkan judul itu tadi daripada memanusiakan sesama manusia. [Yaelah. Judul kan buatan manusia. Pasti ada cacatnya. Nyusahin malah, karena mengotak-kotakkan manusia yang notabene adalah penciptanya. Nggak mau diketawain bareng-bareng aja?]

Tetapi di lain sisi, saya juga menemukan banyak orang sejudul yang tulus hatinya. Nggak hanya tulus, tetapi juga dapat memaknai ritus yang mentradisi itu dengan santai dan nggak bikin saya terintimidasi. Berdoanya juga nggak sombong
, nggak pamer. Dan ketulusan cintanya kelihatan dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Golongan inilah yang membantu saya bercermin dan berefleksi, bahwa agama tidak selalu eksklusif dan membuat pikiran tertutup. Lumayanlah. Mereka yang termasuk ke dalam golongan ini, baik yang saya kenal secara pribadi atau tidak, secara tidak langsung telah membuat saya kembali berpaling kepada ‘sang kakak’ setelah lama ‘berpergian’ tanpa ‘ingat rumah’.

Saat saya ‘lupa pulang’ dan enggan menyandang status Katolik (dan agama apapun) sebagai pegangan hidup, saya merasa tidak perlu lagi berdoa. Doa  memang terlalu sering  membuat patah hati, karena toh tidak pernah terkabul meski saya meratap berkali-kali. Saya beranggapan bahwa lebih baik tidak pernah memiliki harapan akan terkabulnya sebuah doa. Tetapi saya dibuat terhenyak dengan kata-kata seorang teman. Teman yang lainnya lagi. “Buat apa hidup kalau tidak punya harapan. Bangun tidur pagi pun tidak ada bahan bakarnya. Apa bedanya dengan orang mati.”  [Mungkin karena itulah, bagi orang yang putus asa, ‘mati’ adalah juga sebuah opsi.]

Iya juga ya. Apakah yang lebih menyedihkan daripada hidup tanpa punya harapan? Meski saya kerap mengatakan bahwa saya bukan orang yang ambisius dalam segala hal, setidaknya saya perlu mempunyai satu harapan, satu angan, yang membuat saya ‘hidup’ setiap kali membuka mata. Dan kini saya kembali punya harapan. Bisa jadi kini saya telah menemukannya, menemukan satu atau dua pemantik dalam rencana hidup saya. Meski begitu, saya sadari, pemantik itu tidak terlalu bernyala. Karena, yah.. tetap, saya orangnya nggak ngoyo-ngoyo amat. Tapi itu pun sudah lebih dari cukup. Mengingat betapa saya pernah demikian pesimis menghadapi hidup.


Nikmatin Aja
Kini cobaan terberat itu sudah lewat lebih dari satu setengah tahun.
Dan saya baik-baik saja.
Jika usia 20 hingga 25 kemarin sarat dengan pergolakan keimanan yang dahsyat, sekarang saya mau istirahat.

Tapi tidak, saya tetap bukan anak yang baik.
Saya masih lebih sering bertanya
usil daripada berpasrah.
Saya tetap anak nakal.
Anak nakal yang lelah.
Anak nakal yang sewaktu-waktu butuh untuk dipeluk dan dipapah.

Saya akan menunggu.
Tabah meniti jalan dengan kegembiraan anak kecil yang pergi rekreasi.
Lalu membuka mata pada berbagai kemungkinan dan pilihan jalan yang baru.

Mungkin inilah waktunya.
Memaknai jawaban
atas semua doa.
Waktu untuk
menghayati makna di balik nikmatin aja.



Comments

  1. Postingan pertama setelah satu tahun tidak ngeblog ya? Hehehehe. Isinya terlalu pribadi, saya ndak bisa koment. Cukup kunjungan balik setelah kmrn mampir d blog ane, tengkyu,,, :D

    ReplyDelete
  2. selalu ada daya tarik bila kita berdiskusi tentang eksistensi Tuhan, numpang berteduh sebentar ya.. http://sejarawan.id

    ReplyDelete
  3. Ayo semangat lagi untuk nulis dan ngeblog...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts